Di balik kelezatan keju Prochiz yang telah akrab di lidah masyarakat Indonesia, berdiri sebuah kerajaan bisnis yang kokoh. PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), produsen keju olahan merek Prochiz, tengah bersiap untuk melebarkan sayapnya dengan membangun pabrik kedua yang megah. Investasi yang digelontorkan untuk proyek ambisius ini tidak main-main, mencapai angka Rp691,65 miliar. Pabrik baru ini rencananya akan berdiri kokoh di Sumedang, Jawa Barat, menambah deretan industri yang semakin meramaikan kawasan tersebut.
Keputusan untuk membangun pabrik baru ini bukan tanpa alasan. Permintaan pasar terhadap produk-produk KEJU terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Lonjakan permintaan ini menjadi sinyal positif bagi perusahaan, sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi. Saat ini, KEJU baru memiliki satu-satunya fasilitas produksi yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar, mencapai 33.064 ton per tahun. Namun, dengan rincian produksi keju sebanyak 30.562 ton dan mayones 2.502 ton per tahun, kapasitas ini dirasa mulai tidak mencukupi untuk memenuhi derasnya permintaan pasar yang terus tumbuh.
Mulia Boga Raya, sang empu merek Prochiz, memiliki sejarah yang cukup panjang di industri makanan Indonesia. Meskipun informasi mengenai sosok pendiri perusahaan ini tidak banyak beredar, catatan resmi perusahaan menunjukkan bahwa Mulia Boga Raya telah berdiri sejak tahun 2006. Awalnya, perusahaan ini bergerak sebagai distributor produk makanan dan susu. Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 2008, Mulia Boga Raya mulai membangun pabrik pertamanya di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik ini didedikasikan khusus untuk memproduksi keju olahan, sebuah langkah strategis untuk memasuki pasar keju yang saat itu masih didominasi oleh produk impor.
Momentum penting bagi Mulia Boga Raya tiba pada tahun 2010. Di tahun inilah, merek Prochiz resmi diperkenalkan kepada publik. Prochiz mencatatkan sejarah sebagai merek keju olahan pertama yang benar-benar diproduksi di Indonesia. Kehadiran Prochiz di pasar langsung mendapatkan sambutan hangat dari konsumen. Kualitas rasa yang lezat dengan harga yang terjangkau menjadikan Prochiz sebagai pilihan utama bagi keluarga Indonesia. Sejak saat itu, bisnis Mulia Boga Raya terus berkembang pesat. Kepercayaan konsumen yang tinggi dan strategi bisnis yang tepat membawa perusahaan ini menuju kesuksesan yang lebih besar. Puncak dari perjalanan bisnis Mulia Boga Raya adalah ketika perusahaan ini berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2019. Dengan kode emiten KEJU, saham perusahaan ini menjadi incaran para investor.
Namun, setahun setelah mencatatkan sahamnya di BEI, terjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan Mulia Boga Raya. Pada tahun 2020, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), salah satu raksasa industri makanan dan minuman di Indonesia, secara resmi mengakuisisi mayoritas saham KEJU. Garudafood membeli 55% saham KEJU dengan nilai transaksi yang fantastis, hampir mencapai Rp1 triliun. Saham tersebut dibeli dari para pemegang saham individual yang diduga merupakan sosok-sosok penting di balik berdirinya Mulia Boga Raya. Mereka adalah Lie Po Fung, Sandjaya Rusli, Berliando Lumban Toruan, Agustini Muara, Marcello Rivelino, dan Amelia Fransisca. Akuisisi ini menjadi babak baru bagi perjalanan bisnis Prochiz, yang kini berada di bawah payung besar Garudafood.
Garuda Food, perusahaan yang kini menjadi pemilik produsen Prochiz, adalah buah karya dari seorang konglomerat bernama Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto. Pengusaha kelahiran 20 Maret 1956 ini memiliki kisah hidup yang penuh inspirasi. Masa kecilnya tidaklah mudah. Ia mengaku sering menjadi korban perundungan teman-temannya. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Sudhamek justru memacu semangatnya untuk meraih kesuksesan. Kegigihan dan kecerdasannya mengantarkannya meraih gelar ganda (double degree) dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga.
Jiwa bisnis Sudhamek telah tumbuh sejak kecil. Ia melihat langsung bagaimana ayahnya merintis bisnis tepung tapioka dari nol hingga berhasil membangun pabrik di Mojoagung, Pati, Jawa Timur. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga dan inspirasi bagi Sudhamek untuk mengikuti jejak sang ayah. Meskipun demikian, sebelum terjun sepenuhnya ke dunia bisnis, Sudhamek sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di beberapa perusahaan. Namun, hanya tiga tahun bekerja sebagai karyawan, Sudhamek memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan meneruskan bisnis keluarga yang saat itu telah berkembang menjadi produsen olahan kacang tanah.
Tahun 1990 menjadi titik balik penting dalam karier bisnis Sudhamek. Di tahun ini, ia mendirikan PT Garudafood Putra Putri Jaya, meneruskan usaha keluarga yang sebelumnya bernama PT Tudung Putra Jaya. Di bawah kepemimpinan Sudhamek, perusahaan ini mengalami transformasi besar. Ia melakukan restrukturisasi dan mengubah perusahaan tersebut dari sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berdagang tanpa merek menjadi produsen kacang bermerek yang disegani di pasar. Sentuhan tangan dingin Sudhamek berhasil membawa Garudafood menuju puncak kesuksesan.
Kini, setelah 35 tahun berdiri, Garudafood terus melakukan ekspansi bisnis. Perusahaan ini tidak hanya fokus pada produk kacang tanah, tetapi juga melebarkan sayapnya ke berbagai kategori produk makanan dan minuman lainnya. Portofolio produk Garudafood saat ini sangat beragam, mencakup biskuit, kacang, pilus, pelet snack, confectionery, produk susu, bubuk cokelat, keju, salad dressing, dan masih banyak lagi. Produk-produk Garudafood telah merambah pasar internasional. Perusahaan ini secara aktif mengekspor produk-produknya ke lebih dari 20 negara di dunia, dengan fokus utama di negara-negara ASEAN, China, dan India. Kualitas produk yang terjaga dan strategi pemasaran yang efektif menjadikan produk Garudafood diterima dengan baik di pasar global.
Kesuksesan bisnis yang diraih Sudhamek dan keluarga mengantarkan mereka masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Hingga tahun 2022, kekayaan Sudhamek dan keluarga ditaksir mencapai angka yang fantastis, yaitu Rp1 miliar. Pencapaian ini merupakan bukti nyata dari kerja keras, kegigihan, dan visi bisnis yang kuat dari seorang Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, sang konglomerat di balik kelezatan Prochiz dan kerajaan bisnis Garudafood. Ekspansi pabrik baru di Sumedang menjadi langkah strategis Garudafood untuk terus memperkokoh posisinya sebagai pemain utama di industri makanan dan minuman Indonesia, sekaligus memperluas jangkauan bisnisnya di pasar global.
Keputusan untuk membangun pabrik baru ini bukan tanpa alasan. Permintaan pasar terhadap produk-produk KEJU terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Lonjakan permintaan ini menjadi sinyal positif bagi perusahaan, sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi. Saat ini, KEJU baru memiliki satu-satunya fasilitas produksi yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar, mencapai 33.064 ton per tahun. Namun, dengan rincian produksi keju sebanyak 30.562 ton dan mayones 2.502 ton per tahun, kapasitas ini dirasa mulai tidak mencukupi untuk memenuhi derasnya permintaan pasar yang terus tumbuh.
Mulia Boga Raya, sang empu merek Prochiz, memiliki sejarah yang cukup panjang di industri makanan Indonesia. Meskipun informasi mengenai sosok pendiri perusahaan ini tidak banyak beredar, catatan resmi perusahaan menunjukkan bahwa Mulia Boga Raya telah berdiri sejak tahun 2006. Awalnya, perusahaan ini bergerak sebagai distributor produk makanan dan susu. Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 2008, Mulia Boga Raya mulai membangun pabrik pertamanya di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik ini didedikasikan khusus untuk memproduksi keju olahan, sebuah langkah strategis untuk memasuki pasar keju yang saat itu masih didominasi oleh produk impor.
Momentum penting bagi Mulia Boga Raya tiba pada tahun 2010. Di tahun inilah, merek Prochiz resmi diperkenalkan kepada publik. Prochiz mencatatkan sejarah sebagai merek keju olahan pertama yang benar-benar diproduksi di Indonesia. Kehadiran Prochiz di pasar langsung mendapatkan sambutan hangat dari konsumen. Kualitas rasa yang lezat dengan harga yang terjangkau menjadikan Prochiz sebagai pilihan utama bagi keluarga Indonesia. Sejak saat itu, bisnis Mulia Boga Raya terus berkembang pesat. Kepercayaan konsumen yang tinggi dan strategi bisnis yang tepat membawa perusahaan ini menuju kesuksesan yang lebih besar. Puncak dari perjalanan bisnis Mulia Boga Raya adalah ketika perusahaan ini berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2019. Dengan kode emiten KEJU, saham perusahaan ini menjadi incaran para investor.
Namun, setahun setelah mencatatkan sahamnya di BEI, terjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan Mulia Boga Raya. Pada tahun 2020, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), salah satu raksasa industri makanan dan minuman di Indonesia, secara resmi mengakuisisi mayoritas saham KEJU. Garudafood membeli 55% saham KEJU dengan nilai transaksi yang fantastis, hampir mencapai Rp1 triliun. Saham tersebut dibeli dari para pemegang saham individual yang diduga merupakan sosok-sosok penting di balik berdirinya Mulia Boga Raya. Mereka adalah Lie Po Fung, Sandjaya Rusli, Berliando Lumban Toruan, Agustini Muara, Marcello Rivelino, dan Amelia Fransisca. Akuisisi ini menjadi babak baru bagi perjalanan bisnis Prochiz, yang kini berada di bawah payung besar Garudafood.
Garuda Food, perusahaan yang kini menjadi pemilik produsen Prochiz, adalah buah karya dari seorang konglomerat bernama Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto. Pengusaha kelahiran 20 Maret 1956 ini memiliki kisah hidup yang penuh inspirasi. Masa kecilnya tidaklah mudah. Ia mengaku sering menjadi korban perundungan teman-temannya. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Sudhamek justru memacu semangatnya untuk meraih kesuksesan. Kegigihan dan kecerdasannya mengantarkannya meraih gelar ganda (double degree) dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga.
Jiwa bisnis Sudhamek telah tumbuh sejak kecil. Ia melihat langsung bagaimana ayahnya merintis bisnis tepung tapioka dari nol hingga berhasil membangun pabrik di Mojoagung, Pati, Jawa Timur. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga dan inspirasi bagi Sudhamek untuk mengikuti jejak sang ayah. Meskipun demikian, sebelum terjun sepenuhnya ke dunia bisnis, Sudhamek sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di beberapa perusahaan. Namun, hanya tiga tahun bekerja sebagai karyawan, Sudhamek memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan meneruskan bisnis keluarga yang saat itu telah berkembang menjadi produsen olahan kacang tanah.
Tahun 1990 menjadi titik balik penting dalam karier bisnis Sudhamek. Di tahun ini, ia mendirikan PT Garudafood Putra Putri Jaya, meneruskan usaha keluarga yang sebelumnya bernama PT Tudung Putra Jaya. Di bawah kepemimpinan Sudhamek, perusahaan ini mengalami transformasi besar. Ia melakukan restrukturisasi dan mengubah perusahaan tersebut dari sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berdagang tanpa merek menjadi produsen kacang bermerek yang disegani di pasar. Sentuhan tangan dingin Sudhamek berhasil membawa Garudafood menuju puncak kesuksesan.
Kini, setelah 35 tahun berdiri, Garudafood terus melakukan ekspansi bisnis. Perusahaan ini tidak hanya fokus pada produk kacang tanah, tetapi juga melebarkan sayapnya ke berbagai kategori produk makanan dan minuman lainnya. Portofolio produk Garudafood saat ini sangat beragam, mencakup biskuit, kacang, pilus, pelet snack, confectionery, produk susu, bubuk cokelat, keju, salad dressing, dan masih banyak lagi. Produk-produk Garudafood telah merambah pasar internasional. Perusahaan ini secara aktif mengekspor produk-produknya ke lebih dari 20 negara di dunia, dengan fokus utama di negara-negara ASEAN, China, dan India. Kualitas produk yang terjaga dan strategi pemasaran yang efektif menjadikan produk Garudafood diterima dengan baik di pasar global.
Kesuksesan bisnis yang diraih Sudhamek dan keluarga mengantarkan mereka masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Hingga tahun 2022, kekayaan Sudhamek dan keluarga ditaksir mencapai angka yang fantastis, yaitu Rp1 miliar. Pencapaian ini merupakan bukti nyata dari kerja keras, kegigihan, dan visi bisnis yang kuat dari seorang Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, sang konglomerat di balik kelezatan Prochiz dan kerajaan bisnis Garudafood. Ekspansi pabrik baru di Sumedang menjadi langkah strategis Garudafood untuk terus memperkokoh posisinya sebagai pemain utama di industri makanan dan minuman Indonesia, sekaligus memperluas jangkauan bisnisnya di pasar global.
EmoticonEmoticon